‘





,
Ketidaktegasan hanyalah alat seseorang untuk mencapai keinginan atau menghindari sesuatu yang ditakutinya. Namun, salah satu ciri yang harusnya menonjol pada diri pemimpin adalah sikap tegas. Tentu, pemimpin yang kurang tegas bisa memperbaiki sikapnya.
“Ibu Dewi, kami baru saja mendapatkan seorang pimpinan baru. Orangnya sangat menyenangkan dan pandai bergaul, sehingga kami mudah untuk dekat dengannya..
Rata-rata karyawan mempunyai pendapat yang sama mengenai beliau. Dan karena menurut orang-orang yang pernah mengenalnya ia terkenal cukup pandai, kami punya harapan bahwa perusahaan akan maju di bawah pimpinannya.
Namun, setelah berjalan kurang lebih enam bulan, saya dan beberapa kepala unit lain mulai kecewa. Tadinya kami berharap kehadiran beliau bisa mengubah iklim kerja yang kurang produktif menjadi lebih bersemangat, tapi harapan itu tidak juga terwujud.
Yang saya lihat kurang mendukung dari cara beliau memimpin adalah sikapnya yang kurang tegas. Kami beberapa kali dihadapkan pada keadaan yang membingungkan akibat sikapnya yang kurang tegas itu.
Sebenarnya beliau tidak terlalu jelek dalam memimpin. Namun, sikap tidak tegasnya kadang-kadang menimbulkan masalah yang tidak perlu, bahkan pernah menjadi sumber konflik antara dua orang pimpinan unit. Mereka saling menyalahkan yang berakibat merugikan semua pihak.
Mengapa seorang pemimpin bisa bersikap tidak tegas? Apakah sikap tidak tegas bisa diperbaiki?” Yahya, Jakarta
Ciri Pemimpin
Sangat disayangkan jika saat memimpin, seseorang tidak memiliki sikap tegas, terutama dalam memutuskan atau bertindak. Sebab, bawahan akan dihadapkan pada ketidakjelasan, bahkan bisa mengarah pada “pengambangan” masalah.
Hal-hal penting dalam pekerjaan yang seharusnya sudah dapat ditindaklanjuti bisa tertunda untuk beberapa lama karena tidak secara tegas ditetapkan. Kadang-kadang ada keragu-raguan pada pimpinan yang tidak tegas untuk memutuskan, apalagi kalau belum mendapat dukungan kuat dari bawahan atau kelompok kerjanya. Sikap semacam ini seharusnya tidak ada pada mereka yang keputusan atau tindakannya akan mempengaruhi dan menentukan kerja orang lain.
Perlu diketahui bahwa sikap tidak tegas ini bukan hanya dimiliki oleh atasan Anda. Saya menjumpai tak sedikit pemimpin yang tidak mampu bersikap tegas.
Tentu saja ini bukan kenyataan yang harus dimaklumi dan diterima begitu saja. Apalagi kita tahu bahwa salah satu ciri perilaku yang harusnya menonjol dari pemimpin adalah sikap tegas.
Lebih dari itu, sikap tegas bukan hanya diharapkan dari seorang pemimpin, melainkan dari setiap orang yang di dalam menjalankan perannya punya tanggung jawab mengendalikan atau mengarahkan perilaku orang lain. Misalnya guru, polisi, dokter, hakim, petugas lalu lintas udara, wasit, tukang parkir, dan masih banyak contoh lain.
Ketidaktegasan sikap masing-masing pemeran ini bisa menimbulkan akibat yang merugikan pihak lain yang memerlukan arahannya. Sementara itu, dalam memilih atau menentukan orang-orang yang diberi peran, seringkali sikap ini kurang mendapat perhatian serius.
Keraguan Runi
Pada kesempatan ini saya ingin menceritakan satu pengalaman yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Belum lama ini saya didatangi seorang mantan mahasiswi, sebut saja Runi, yang baru saja lulus S-1. Ia minta waktu untuk curhat.
Rupanya ia sedang berada di persimpangan jalan untuk melanjutkan hubungannya dengan sang pacar atau tidak. Pasalnya, ia tidak pernah mendapat kepastian kapan sang pacar mau datang melamar ke orangtuanya.
Mereka sudah berhubungan selama lebih dari tiga tahun. Namun, setiap kali Runi mulai mengarahkan pembicaraan ke soal pernikahan, sang pacar selalu menghindar dengan berbagai dalih.
Runi mengaku sangat mencintai sang pacar karena banyak sifat baik yang dimilikinya. Sekarang ini, setelah lulus, Runi ingin segera menikah karena memang itu pula yang diharapkan orangtuanya. Namun, seperti yang sudah-sudah, sang pacar tak mengatakan “tidak mau” atau “ya, mau”.
Ketika Runi mempertanyakan apakah sebenarnya sang pacar tidak mencintai dirinya, dengan panjang lebar ia mencoba membuktikan bahwa tidak ada perempuan lain yang disayanginya kecuali Runi. Di sini Runi heran, mengapa sang pacar tidak bisa bersikap tegas? Ia jadi bingung, harus bersikap bagaimana agar bisa mendapat kepastian.
Kecenderungan Menunda
Sikap tidak tegas adalah kecenderungan untuk menunda keputusan yang biasanya disebabkan adanya ketakutan dalam menerima akibat atau konsekuensinya. Meskipun sejumlah orang dapat disebut tegas secara umum, tidak berarti bahwa orang-orang tersebut pasti tegas dalam segala hal. Pada setiap orang yang tegas, pasti didapati juga sikap tidak tegas dalam hal-hal tertentu.
Seorang laki-laki yang sangat tegas di dalam lingkungan kerjanya, bisa sangat tidak tegas kalau sudah harus menghadapi anak-anaknya di rumah. Seorang ibu guru yang dikenal sangat tegas dalam kata dan perbuatannya, ternyata tidak bisa tegas saat menghadapi sang suami. Atau tidak tegas yang situasional sifatnya.
Dengan kata lain, penilaian terhadap sikap tegas seseorang masih perlu dilihat dalam kaitan apa. Yang pasti, kita tak menginginkan orang yang tidak tegas dalam banyak hal atau yang di bidang tertentu yang menjadi tanggung jawabnya.
Dalam diri seseorang, sikap tegas tersebut tidak diperoleh begitu saja pada saat dilahirkan. Ia tumbuh dan berkembang, terutama dipengaruhi oleh pola asuh orangtua dan pengalaman hidup.
Orangtua yang terlalu banyak melindungi dan atau selalu ikut menentukan apa yang harus dilakukan, menyebabkan anak sulit bersikap tegas. Ia tidak terlatih untuk menentukan sikap dan sekaligus menerima konsekuensi atas tindakannya sendiri.
Begitu pula anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang harus selalu bersikap manis agar menghormati dan disenangi lingkungan. Dalam situasi ia harus tegas kepada orang lain, biasanya ia kurang mampu.
Sikap tidak tegas juga bisa berkembang karena pengalaman. Seseorang bisa menjadi tidak tegas karena dalam sejumlah besar pengalaman hidupnya, pada saat ia sulit memutuskan, ada saja orang lain yang lalu mengambil keputusan untuknya. Atau kalau ia mengharapkan dukungan orang lain pada saat harus mengambil tindakan, ia selalu memperolehnya.
Pengalaman sebaliknya juga bisa terjadi. Orang berubah menjadi tidak tegas karena setiap kali bersikap demikian, justru mendapatkan hasil yang tak menyenangkan.
Bisa Diperbaiki
Kembali pada pertanyaan Anda tentang sikap pimpinan baru tadi, besar kemungkinan ia adalah orang yang dibesarkan oleh pola asuh yang menuntutnya selalu bersikap manis kepada orang lain. Biasanya mereka yang dibesarkan dengan cara ini selalu berusaha disenangi oleh banyak orang dan menghindarkan diri untuk tidak menyakiti orang lain.
Bisa juga bukan karena pola asuh orangtuanya seperti itu, melainkan pengalaman yang diperoleh dalam pergaulan dengan lingkungannya. Ia lebih banyak mendapatkan konsekuensi menyenangkan setiap kali berbuat baik kepada orang lain. Sebagai akibatnya, ia selalu berusaha untuk tidak menyakiti atau berkonflik dengan orang lain.
Mengapa kecenderungan ini lebih besar kemungkinannya, hal ini berhubungan dengan keterangan Anda bahwa ia adalah pribadi yang menyenangkan dan pandai bergaul. Selain itu, salah satu contoh dari akibat yang Anda kemukakan adalah terjadinya konflik antara dua kepala unit, yang kira-kira menggambarkan adanya ketentuan atau keputusan yang tidak tegas bagi kedua unit tadi.
Kalau Anda juga mempertanyakan apakah sikap tidak tegas masih dapat diperbaiki, jawabannya bisa, tapi dengan persyaratan tertentu. Ketidaktegasan hanyalah alat seseorang untuk mencapai hal yang dia inginkan atau menghindari apa yang ia takutkan.
Kalau pengalaman menunjukkan bahwa alat ini tidak efektif, secara berangsur ia akan meninggalkan ketidaktegasan untuk menjadi lebih tegas. Sekarang tinggal bagaimana kita membantu agar ia mendapatkan “hukuman” setiap kali bertindak tidak tegas.
Dalam kasus Anda, yang dimaksudkan dengan “hukuman” bisa saja memberikan umpan-balik (feed-back) kepadanya, antara lain dengan menunjukkan akibat dari ketidaktegasannya, mumpung ia relatif masih baru. Kalau ia orang yang baik, dalam arti cukup dewasa, mestinya ia akan berupaya untuk memperbaiki sikapnya.
Perlu Dibantu
Lain halnya dengan apa yang pernah saya sarankan kepada Runi. Saya mengatakan kepadanya bahwa dalam hal ini sang pacar perlu dibantu untuk memutuskan. Artinya, Runi tidak bisa mengharapkan ketegasan jawaban keluar secara spontan dari sang pacar.
Meskipun Runi adalah pihak perempuan, mungkin ia yang harus memutuskan lebih dahulu agar sang pacar mau mengikutinya. Bisa saja sang pacar adalah orang yang sulit tegas kalau harus mengambil keputusan menyangkut persoalan pribadi.
Dalam hal semacam ini ia justru memerlukan orang lain untuk membantu memutuskan sesuatu baginya. Gambaran ini bisa saja akan berbeda dengan sikapnya di tempat kerja kalau ia harus bertindak.
Dua Prinsip
Bagi yang kebetulan sedang menghadapi masalah ini, mungkin ada dua hal yang perlu diingat:
Pertama, pergaulan erat kaitannya dengan kemampuan. Artinya, ini bukan bawaan lahir tetapi merupakan kemampuan yang diraih dari usaha dalam mengembangkan diri. Jadi, apapun kepribadian Anda, pada dasarnya Anda punya kesempatan yang sama untuk bergaul seperti orang lain yang punya model kepribadian lain.
Sah-sah saja kita menyimpulkan, misalnya saja: saya orangnya termasuk melankolis yang introvert, pemikir dan pesimis. Dia orangnya termasuk Sanguinis yang ekstrovert, suka ngomong dan optimis. Dan sebagainya.
Tidak peduli apakah kita termasuk orang berkepribadian ini atau itu, ada satu hal yang perlu diingat: kalau kita mengalami kesusahan bergaul, hidup kita juga mengalami kesusahan. Ini adalah sebuah dalil mengapa kita perlu mengembangkan potensi yang mendukung perbaikan kemampuan kita dalam bergaul, terlepas bagaimana pun kepribadian kita.
Sejumlah istilah ilmiah yang bisa kita temukan dalam buku-buku kepribadian mestinya kita gunakan untuk melihat sisi plus-minus agar kita bisa mengembangkan diri sejati kita (bukan jadi seperti orang lain). Sebab, apapun model kepribadian kita pasti ada sisi plus yang perlu kita kembangkan untuk memperbaiki hidup dan pasti pula ada sisi minus yang perlu kita kontrol agar tidak sampai merugikan atau membahayakan.
Kedua, pergaulan tidak identik dengan banyak atau sedikit ngomong, pendiam atau tidak pendiam. Prinsip pergaulan adalah bagaimana kita berkomunikasi dengan orang lain dan bagaimana kita menjaga hubungan itu. Karenanya, jangan heran bila menjumpai ada orang yang banyak ngomong tetapi pergaulannya sempit dan jangan heran pula bila melihat ada orang yang sedikit ngomong tetapi pergaulannya luas.
Hambatan
Ada beberapa hal yang menghambat usaha kita untuk mengatasi kesulitan dalam bergaul, antara lain:
Arogansi tersembunyi
Ini biasanya sangat halus bahkan kurang disadari. Namun ada bentuk nyata yang bisa mewakili, misalnya kita menolak untuk bertanya kepada orang lain lebih dulu dengan alasan "untuk apa bertanya duluan?", menolak berjabat tangan lebih dulu, dan seterusnya. Meski ini adalah hak kita, tetapi kalau yang kita inginkan adalah menjalin pergaulan, maka kita perlu menggantinya dengan yang lebih bersahabat.
Ada juga yang disebut dengan istilah "terlalu pasif". Misalnya menunggu ditanya lebih dulu, menunggu diajak berjabat tangan lebih dulu, menunggu disapa lebih dulu, menunggu diajak senyum lebih dulu, dan seterusnya. Dua hal ini bisa mengganggu pergaulan.
Sungguh indah ajaran Islam yang menganjurkan berwajah berseri-seri dan menebarkan salam. Ini berarti menganjurkan kita rendah hati dan bersikap aktif, tidak sebagaimana halangan gaul di atas.
Terlalu memikirkan diri sendiri
Ini bisa mengganggu kelancaraan saat sedang berbicara dengan orang lain. Ketika sedang berbicara dengan orang lain, jangan memikirkan bagaimana sepatu Anda, rambut Anda, cara duduk Anda, dan seterusnya. Atau juga jangan mengembangkan asumsi seperti misalnya: bagaimana orang lain menilai kostum saya, dan semacamnya. Ini kerap membuat konsentrasi Anda bukan pada pembicaraan, tetapi kepada diri sendiri. Jadi, fokuskan pada bagaimana menciptakan suasana supaya bisa menjadi hidup, bukan memikirkan diri sendiri.
Bisa saja Anda termasuk pegawai yang berpengalaman, memenuhi persyaratan, sekaligus pekerja keras. Tetapi jangan lupa, selalu ada faktor-faktor lain yang ikut menentukan. Misalnya penampilan, dan kesan yang Anda berikan, hubungan kerja dengan atasan ataupun dengan sesama rekan kerja, serta politik perusahaan. Jangan lupa, keberuntungan juga ikut berperan.
Berikut ini 10 kiat-kiat yang perlu anda perhatikan bila anda ingin mendapatkan promosi
1. Kuasai pekerjaan Anda
Kuasai dengan sungguh-sungguh bidang yang Anda kerjakan dan perluas wawasan serta keterampilan Anda pada bidang-bidang yang genting di dalam perusahaan. Jangan pernah menolak untuk mengikuti training. Bila Anda tertarik pada posisi tertentu, pelajari segala sesuatu yang perlu Anda ketahui yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut agar Anda dapat memperbaiki kekurangan.
2. Jalin hubungan baik dengan atasan
Atasan merupakan penghubung antara Anda dan posisi Anda berikutnya. Jalin hubungan baik dengannya dan tunjukkan kepadanya bahwa Anda mengerti apa yang dia mau. Secara rutin, diskusikan dengan atasan Anda apa yang diperlukannya dan bagaimana Anda dapat membantunya.
3. Ciptakan hubungan
Jalin hubungan baik dengan sesama rekan sekerja, tidak hanya dengan rekan sekerja di satu departemen dengan Anda tetapi juga dengan rekan sekerja yang berada di departemen lain. Misalnya, ketika waktu Anda sedang agak senggang karena pekerjaan inti Anda telah selesai, bantulah mereka bila mereka membutuhkan. Bergabung dengan tim bulu tangkis ataupun kegiatan lain yang diadakan oleh perusahaan, atau makan siang di luar kantor bersama rekan-rekan sekerja paling tidak sekali seminggu.
4. Sadari kemampuan yang Anda miliki
Catat prestasi yang telah Anda capai serta kontribusi Anda pada perusahaan. Kumpulkan portfolio hasil kerja yang memperlihatkan ketrampilan dan pengalaman Anda. Hal ini tidak hanya mengingatkan Anda betapa hebatnya diri Anda tetapi juga membantu Anda dalam memberi contoh kepada rekan sekerja yang lain.
5. Pancarkan aura positif
Banyak pemimpin ataupun orang-orang yang sukses memiliki sikap "saya bisa" yang mempengaruhi mereka yang berada di sekitarnya. Pastikan Anda memberikan energi positif dengan menjadi pendengar yang baik, memberikan dukungan kepada rekan sekerja, serta tidak suka mengeluh. Lakukan dengan cara yang terbaik untuk menyatakan sesuatu dengan kata-kata yang membangun dan mudah dimengerti.
6. Berani tampil
Jadilah seseorang yang berani tampil agar orang memperhatikan Anda. Tawarkan diri Anda untuk menjadi pembicara pada rapat yang diadakan dengan perusahaan lain, atau menulis artikel untuk buletin perusahaan baik mengenai keberhasilan yang dicapai oleh diri sendiri ataupun tim kerja Anda. Cari kesempatan untuk dapat berkenalan dengan teman-teman atasan Anda ataupun pimpinan lain di dalam perusahaan tempat Anda bekerja.
7. Perhatikan penampilan
Bila menginginkan kedudukan sebagai wakil direktur penjualan, berpenampilanlah dan berperilakulah sebagai seorang wakil direktur penjualan! Namun tidak berarti Anda harus mengenakan pakaian kerja yang berlebihan. Berpakaianlah secara sederhana tapi meyakinkan.
8. Ciptakan kesempatan
Sesuaikan aspirasi Anda dengan kebutuhan dari departemen dan perusahaan dimana Anda bekerja. Pelajari tren industri, evaluasi kebutuhan, dan tantangan dari perusahaan Anda. Bila melihat ada bagian / departemen yang tidak diperhatikan, ajukan diri Anda dengan menuliskan proposal dan deskripsi untuk mengembangkannya.
9. Bersabar
Banyak pegawai yang tidak lama berada di suatu perusahaan, terutama mereka yang masih muda. Jangan lupa, bila ada rekan sekerja yang berhenti maka hal ini dapat merupakan peluang bagi Anda untuk mendapatkan promosi. Jadi, bertahanlah dan peka dengan situasi di perusahaan Anda.
10. Tempat dan saat yang tepat
Bisa saja terjadi atasan ataupun pimpinan lain di dalam perusahaan tidak menyukai Anda, dan kebetulan perusahaan sedang mengalamai masa sulit sehingga akan mengurangi pegawainya. Hal ini berarti kemungkinan bagi Anda untuk dipromosikan menjadi tipis. Oleh karena itu Anda harus bersikap realistis. Tempatkan diri Anda pada situasi dimana kemungkinan untuk mencapai keberhasilan lebih besar. Cari perusahaan yang Anda sukai serta sesuai dengan latar belakang pendidikan serta budaya perusahaan yang sesuai dengan gaya dan nilai kerja Anda.
Misalnya, ketika seorang atasan menegur bawahannya yang tak pernah mengangkat dan menjawab telepon yang berdering, si bawahan dengan cuek-nya menjawab, "Mengapa harus saya? Dari sepuluh deringan telepon yang berbunyi, sembilan telepon bukan untuk saya!"
Ya, itulah contoh karyawan negatif. Pegawai yang negatif melakukan pekerjaannya seadanya. Mereka tidak termotivasi dan tidak mempunyai inisiatif. Mereka bahkan mengatakan, "Masa kerja saya hanya tinggal 4 tahun lagi, sesudah itu pensiun dan tidak ada lagi di sini. Jadi buat apa kerja keras?"
"Memelihara" banyak karyawan negatif dalam sebuah perusahaan tentu membuat perusahaan tidak sehat. Jadi, bagaimana idealnya seorang karyawan bersikap? Tentu saja mengembangkan sikap positif.
Berikut ini empat karakter pegawai yang positif yang harus Anda terapkan untuk diri sendiri dan tim kerja Anda:
1. MENGERTI ARTI KERJA KERAS
Kebanyakan orang tahu bahwa kerja keras baik untuk perusahaan. Selain itu, kerja keras juga baik untuk pelanggan, bahkan untuk negara. Tetapi hanya seorang pemenang yang tahu bahwa kerja keras juga bagus untuk mental orang yang bersangkutan.
Kerja keras harus dilakukan, bukan karena kerja keras akan memungkinkan Anda mendapatkan penghargaan dan promosi, tetapi lebih karena akan membuat Anda menjadi seseorang yang kompeten. Tentu sangat tidak baik jika masing-masing kita berhenti peduli terhadap kualitas kerja kita sendiri.
2. MENIKMATI PEKERJAAN
Pegawai yang positif memutuskan untuk menikmati pekerjaannya! Tidak peduli apakah pekerjaan tersebut disukainya atau tidak. Tentu saja, tidak ada pekerjaan yang sempurna, dan selalu saja ada hal-hal untuk dikeluhkan. Bagi seorang pemenang, mereka memutuskan untuk menyukai pekerjaannya. Para pemenang mengambil sikap tersebut berdasarkan keputusan mereka sendiri, bukan berdasarkan perasaan yang mereka rasakan.
Pekerjaan Anda mungkin saja tidak menyenangkan, bahkan mungkin sangat menyebalkan. Tetapi sebagai pemenang, Anda akan menikmati pekerjaan Anda, tidak peduli apakah Anda menyukainya atau tidak.
3. MELIHAT SISI BAIK
Pegawai yang positif melihat segala situasi dari sisi baiknya. Setiap orang selalu melihat apa yang salah dalam suatu situasi tetapi pegawai yang positif tidak terpaku pada satu titik. Seorang pemenang tetap membuat dirinya termotivasi dengan melihat setiap situasi dari sisi baiknya dan memusatkan perhatian pada bagaimana mereka dapat membuatnya menjadi lebih baik.
Sebaliknya, pegawai yang negatif memusatkan perhatian pada hal-hal kecil yang mengganggu dan membiarkannya menghancurkan semuanya. Misalnya seorang peserta seminar yang diadakan di sebuah hotel mewah memberikan komentar negatif yang didengar semua peserta, "Sayang, ya, kursinya tidak nyaman dan makanannya pun tidak enak."
Tentu saja, seorang pegawai positif yang melihat segala situasi dari sisi baiknya dapat merupakan pengganggu bagi karyawan yang negatif. Si negatif akan melihat pegawai yang positif sebagai orang yang menyebakan, bahkan mungkin menjijikkan.
4. MELAKUKAN LEBIH
Pegawai yang positif akan bertanya bagaimana dia dapat melakukan lebih dari yang diharapkan. Setiap pemimpin pasti tahu prinsip ini: sedikit bicara tapi banyak bekerja. Pegawai positif tidak pernah puas dengan hasil pekerjaan yang biasa-biasa saja dan mereka akan merasa tidak nyaman dengan diri mereka sendiri.
Pegawai yang positif mencari tahu apa yang diharapkan dari mereka dan akan melakukan yang terbaik untuk mencapai harapan-harapan tersebut. Tidak peduli apakah melakukan sesuatu yang membuat pelanggan terpukau dengan pelayanan yang lebih baik dari yang pernah didapatkannya sebelumnya atau membuat kejutan terhadap sesama rekan sekerja dengan menawarkan bantuan ekstra. Pegawai yang positif memusatkan perhatiannya pada bagaimana dia dapat melakukan lebih bukan kurang.
Anda boleh saja merasa keberhasilan atau prestasi yang diukir sudah cukup mewakili kemampuan Anda. Tapi harus diingat, untuk mencapai sasaran karier, Anda harus sedikit mempromosikan diri agar dilihat dan diakui.Simak beberapa tips berikut ini untuk meningkatkan pandangan Anda:
1. Nilai diri sendiri
Sebelum mencari tahu cara mempromosikan diri, lakukan introspeksi yang jujur terlebih dulu atas kemampuan profesional yang dimiliki. Banyak yang masih harus Anda tata ulang dan kembangkan sebelum menduduki posisi yang lebih tinggi.
2. Meningkatkan tantangan
Tak ada salahnya sesekali menjadi tenaga sukarela untuk penugasan-penugasan yang baru, bahkan yang tidak menyenangkan ataupun yang berbahaya. Kadang-kadang penawaran ini merupakan kesempatan terbaik untuk memperlihatkan kemampuan. Mungkin atasan hanya meminta bantuan secara sambil lalu, misalnya mengumpulkan dengan cepat nama-nama kompetitor perusahaan, di mana tidak seorang pun yang bersedia melakukannya karena menganggap tugas itu kelewat sepele. Padahal, mungkin saja hal itu merupakan kesempatan yang baik bagi Anda untuk mendemonstrasikan kemampuan kepemimpinan Anda.
3. Tonjolkan diri
Tunjukkan minat Anda pada perusahaan dengan ikut berpartisipasi secara aktif pada rapat perusahaan. Sebelum menghadiri rapat, tinjau ulang agenda rapat dan siapkan poin penting dari minat Anda atas topik rapat. Bila Anda hanya ingin menjadi pendengar, jangan ragu-ragu untuk berbagi ide bila memiliki sesuatu yang berharga untuk ditambahkan.
Cari juga kesempatan untuk ikut masuk ke dalam topik. Siapa tahu Anda bersedia menjadi tenaga sukarela sebagai pengajar pelatihan selama masa orientasi bagi pegawai baru, misalnya, dengan memberikan gambaran secara umum mengenai visi dan misi perusahaan.
4. Bersikap proaktif
Anda tentu pernah mendengar, "Yang penting adalah bukan apa yang Anda tahu, tetapi siapa yang Anda kenal". Pada beberapa kasus, faktor yang terpenting adalah siapa yang mengenal Anda. Bayangkan bila pada rapat direksi akan ditentukan siapa saja yang diikutsertakan pada proyek besar yang menantang, apakah ada yang menyebutkan nama Anda? Apakah orang-orang penting di perusahaan mengenal Anda serta keberhasilan yang telah Anda capai? Bila tidak, berarti Anda harus mempromosikan diri sendiri, misalnya dengan cara mengirimkan status laporan mingguan secara rinci ke atasan atau secara sukarela dan berinisiatif mewakili tim kerja atau departemen Anda bila ada kejadian-kejadian penting di perusahaan.
5. Terima pujian dengan rasa syukur
Bila seseorang memberikan pujian atas keberhasilan yang Anda capai, bagaimana reaksi Anda? Bila Anda meremehkannya dan mengatakan, "Ah, itu bukanlah apa-apa," berarti Anda memberikan kesempatan bagi orang lain untuk mengambil alih tempat Anda. Respons yang jauh lebih baik yang dapat diberikan adalah, "Terima kasih. Saya sangat senang karena ternyata hasil jerih payah dan kerja keras saya dihargai dan tidaklah sia-sia."
Anda perlu berhati-hati dalam menerima pujian yang bukan merupakan hasil kerja Anda karena dapat menciptakan ketegangan di antara sesama rekan sekerja. Jika memang keberhasilan itu merupakan hasil kerja tim, jangan pernah ragu untuk mengatakan, "Semua ini bisa berhasil karena dukungan tim yang baik. Tanpa bantuan mereka, pasti tak akan sebaik ini hasilnya."
6. Bersosialisasi
Jangan meremehkan pentingnya menghadiri acara perusahaan seperti acara akhir tahun atau ulang tahun perusahaan. Sempatkan diri untuk berbicara dengan orang-orang yang bekerja di perusahaan Anda, jangan hanya mengobrol dengan teman dekat atau dengan mereka yang sudah Anda kenal. Berpartisipasilah pada kegiatan-kegiatan khusus seperti olahraga ataupun pengumpulan dana untuk korban bencana alam. Melalui acara yang informal ini, Anda dapat mengembangkan pertemanan dan jejaring Anda di dalam perusahaan.
Tetap semangat dan terus bekerja keras sambil mencoba tips di atas ya.
1. Kembalikan ke tempatnya
Selesai mengerjakan sesuatu dan memakai sebuah barang, selalu kembalikan ke tempatnya semula atau pada tempat yang telah ditentukan. Hindari dan jangan pernah menyimpan atau membiarkannya di suatu tempat untuk sementara waktu, seperti misalnya di meja makan. Sebab, yang sering terjadi, tempat sementara itu tadi berubah menjadi tempat permanen.
Dengan menambah barang-barang di tempat penyimpanan sementara tadi, akhirnya akan membuahkan ketidakteraturan. Alhasil, Anda harus membuang waktu lebih banyak untuk merapikannya.
Jadi, jangan lupa untuk selalu secepatnya mengembalikan barang ke tempatnya semula begitu selesai dipakai sehingga tidak akan pernah terjadi kekacauan dan membuang waktu percuma.
2. Kerjakan setiap hari, secara rutin
Banyak tugas yang jika dibiarkan tidak diselesaikan, akan terus menggunung dan malah akan lebih banyak menyita waktu untuk membereskannya. Misalnya, jika Anda mau meluangkan waktu setiap hari untuk menyortir surat-surat, Anda hanya perlu 5 menit saja. Tapi jika dibiarkan sampai seminggu, pasti dapat memakan waktu sampai 1 jam, bahkan bisa lebih.
Begitu juga halnya dengan pakaian. Jika Anda mencuci baju setiap hari, maka akan menyeterika sedikit pakaian pula, tidak ada pernah pakaian yang bertumpuk kotor. Sebaliknya, jika menunggu sampai 3 atau 4 hari, Anda akan tidak tahu dari mana harus memulai pekerjaan.
Jika Anda membersihkan kamar mandi setiap hari setelah setiap orang selesai mandi, maka Anda tidak pernah mendapatkan kamar mandi yang penuh kotoran. Namun kalau dibiarkan seminggu, Anda harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menyikat lantai kamar mandi dan memerlukan lebih banyak waktu. Lagipula, kamar mandi jadi tak sehat dan tidak sedap dipandang mata.
3. Kerjakan sekaligus
Cukup sekali saja membuang dan mengambil sampah atau kertas, jangan berkali-kali, karena malah akan membuang tenaga dan waktu.
4. Buat catatan
Walaupun banyak orang punya daya ingat yang kuat, tapi tetap sekali-kali bisa lupa. Umumnya, daya ingat manusia terbatas. Jadi, mengapa harus mengambil risiko? Jika Anda harus diingatkan untuk mengerjakan sesuatu, tulis di sebuah buku catatan atau agenda. Jangan sampai lupa, karena Anda punya banyak pekerjaan lain yang akan saling berkaitan satu sama lainnya dan Anda juga tetap bisa lupa.
1. DAPATKAN YANG TERBAIK
Mengapa ini penting?
Bagaimana menerapkannya?
2. SESUAIKAN TUGAS, KETERAMPILAN DAN MOTIVASI
Mengapa ini penting?
Bagaimana menerapkannya?
3. TEMUKAN KESEIMBANGAN YANG TEPAT
Mengapa ini penting?
Bagaimana menerapkannya?
4. KELOLA ANGGOTA TIM BERAGAM
Mengapa ini penting?
Bagaimana menerapkannya?
5. BERIKAN PUJIAN
Mengapa ini penting?
Bagaimana menerapkannya?
6. TEGAS PADA PEKERJAANNYA, LUNAK PADA MANUSIANYA
Mengapa ini penting?
Bagaimana menerapkannya?
7. KOMUNIKASI TERATUR & TINJAU PRESTASI
Mengapa ini penting?
Bagaimana menerapkannya?