
Dua Prinsip
Bagi yang kebetulan sedang menghadapi masalah ini, mungkin ada dua hal yang perlu diingat:
Pertama, pergaulan erat kaitannya dengan kemampuan. Artinya, ini bukan bawaan lahir tetapi merupakan kemampuan yang diraih dari usaha dalam mengembangkan diri. Jadi, apapun kepribadian Anda, pada dasarnya Anda punya kesempatan yang sama untuk bergaul seperti orang lain yang punya model kepribadian lain.
Sah-sah saja kita menyimpulkan, misalnya saja: saya orangnya termasuk melankolis yang introvert, pemikir dan pesimis. Dia orangnya termasuk Sanguinis yang ekstrovert, suka ngomong dan optimis. Dan sebagainya.
Tidak peduli apakah kita termasuk orang berkepribadian ini atau itu, ada satu hal yang perlu diingat: kalau kita mengalami kesusahan bergaul, hidup kita juga mengalami kesusahan. Ini adalah sebuah dalil mengapa kita perlu mengembangkan potensi yang mendukung perbaikan kemampuan kita dalam bergaul, terlepas bagaimana pun kepribadian kita.
Sejumlah istilah ilmiah yang bisa kita temukan dalam buku-buku kepribadian mestinya kita gunakan untuk melihat sisi plus-minus agar kita bisa mengembangkan diri sejati kita (bukan jadi seperti orang lain). Sebab, apapun model kepribadian kita pasti ada sisi plus yang perlu kita kembangkan untuk memperbaiki hidup dan pasti pula ada sisi minus yang perlu kita kontrol agar tidak sampai merugikan atau membahayakan.
Kedua, pergaulan tidak identik dengan banyak atau sedikit ngomong, pendiam atau tidak pendiam. Prinsip pergaulan adalah bagaimana kita berkomunikasi dengan orang lain dan bagaimana kita menjaga hubungan itu. Karenanya, jangan heran bila menjumpai ada orang yang banyak ngomong tetapi pergaulannya sempit dan jangan heran pula bila melihat ada orang yang sedikit ngomong tetapi pergaulannya luas.
Hambatan
Ada beberapa hal yang menghambat usaha kita untuk mengatasi kesulitan dalam bergaul, antara lain:
Arogansi tersembunyi
Ini biasanya sangat halus bahkan kurang disadari. Namun ada bentuk nyata yang bisa mewakili, misalnya kita menolak untuk bertanya kepada orang lain lebih dulu dengan alasan "untuk apa bertanya duluan?", menolak berjabat tangan lebih dulu, dan seterusnya. Meski ini adalah hak kita, tetapi kalau yang kita inginkan adalah menjalin pergaulan, maka kita perlu menggantinya dengan yang lebih bersahabat.
Ada juga yang disebut dengan istilah "terlalu pasif". Misalnya menunggu ditanya lebih dulu, menunggu diajak berjabat tangan lebih dulu, menunggu disapa lebih dulu, menunggu diajak senyum lebih dulu, dan seterusnya. Dua hal ini bisa mengganggu pergaulan.
Sungguh indah ajaran Islam yang menganjurkan berwajah berseri-seri dan menebarkan salam. Ini berarti menganjurkan kita rendah hati dan bersikap aktif, tidak sebagaimana halangan gaul di atas.
Terlalu memikirkan diri sendiri
Ini bisa mengganggu kelancaraan saat sedang berbicara dengan orang lain. Ketika sedang berbicara dengan orang lain, jangan memikirkan bagaimana sepatu Anda, rambut Anda, cara duduk Anda, dan seterusnya. Atau juga jangan mengembangkan asumsi seperti misalnya: bagaimana orang lain menilai kostum saya, dan semacamnya. Ini kerap membuat konsentrasi Anda bukan pada pembicaraan, tetapi kepada diri sendiri. Jadi, fokuskan pada bagaimana menciptakan suasana supaya bisa menjadi hidup, bukan memikirkan diri sendiri.